Somalia dan Sejarah yang Dilupakan

Somalia kembali menjadi sorotan dunia bukan karena kemajuan politik atau stabilitas kawasan, melainkan akibat pernyataan kontrov...


Somalia kembali menjadi sorotan dunia bukan karena kemajuan politik atau stabilitas kawasan, melainkan akibat pernyataan kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam beberapa pidato dan briefing di Gedung Putih sekitar Januari 2026, Trump secara terbuka meremehkan Somalia dengan menyebutnya bahkan “bukan sebuah negara” dan “yang terburuk di dunia”. Ucapan ini segera memicu gelombang kritik internasional dan membuka kembali perdebatan lama tentang cara Barat memandang Somalia.

Pernyataan Trump tidak berdiri sendiri. Ia berulang kali menyebut Somalia sebagai negara tanpa organisasi, tanpa pemerintahan, dan hanya dikenal karena pembajakan laut. Dalam konteks politik domestik Amerika Serikat, ucapan itu kerap diarahkan kepada lawan politiknya, termasuk anggota Kongres Ilhan Omar yang lahir di Somalia, serta komunitas Somalia di Minnesota.

Dalam briefing panjang di Gedung Putih pada 20 Januari 2026, Trump mengaitkan citra Somalia dengan isu deportasi, penghentian status perlindungan sementara, serta tudingan penipuan dana sosial bernilai miliaran dolar. Retorika tersebut dianggap pendukungnya sebagai “kejujuran keras”, namun oleh para pengkritik dinilai sebagai bentuk rasisme dan pengaburan sejarah.

Di balik kontroversi itu, banyak sejarawan dan pengamat Afrika menilai pernyataan tersebut terlalu menyederhanakan realitas. Somalia memang menghadapi tantangan serius akibat perang sipil dan ekstremisme, tetapi meremehkan Somalia sebagai bangsa dan negara berarti menghapus jejak sejarah panjang yang pernah menjadikannya salah satu pusat peradaban penting di Afrika Timur.

Jauh sebelum Amerika Serikat berdiri pada akhir abad ke-18, wilayah Somalia telah melahirkan sejumlah kesultanan yang berjaya dan diakui dunia. Kesultanan-kesultanan ini tidak hanya memiliki struktur pemerintahan, tetapi juga memainkan peran penting dalam perdagangan internasional dan penyebaran Islam.

Kesultanan Ajuran, yang berjaya sejak abad ke-14 hingga ke-17, adalah salah satu contoh paling menonjol. Ajuran menguasai sebagian besar Somalia selatan dan pesisir Samudra Hindia, mengelola sistem irigasi canggih, serta memimpin perdagangan dengan Arab, Persia, dan India. Kekuasaan mereka bahkan mampu menahan ekspansi Portugis di kawasan Afrika Timur.

Di Somalia utara, Kesultanan Warsangali berdiri selama berabad-abad dan dikenal sebagai kekuatan maritim yang menguasai jalur Laut Arab. Kesultanan ini memiliki jaringan diplomasi luas dan tetap mempertahankan eksistensinya hingga masa kolonial, sebuah bukti daya tahan politik masyarakat Somalia.

Kesultanan Majeerteen di wilayah timur laut Somalia juga mencatatkan sejarah penting. Dengan birokrasi yang terorganisir, sistem pajak, dan angkatan bersenjata sendiri, Majeerteen dianggap sebagai salah satu negara paling modern di Tanduk Afrika sebelum intervensi Eropa.

Sementara itu, Kesultanan Geledi di Somalia selatan menguasai wilayah pertanian subur dan jalur perdagangan menuju Mogadishu. Geledi memainkan peran kunci dalam mengendalikan ekonomi lokal dan menjaga stabilitas regional selama berabad-abad.

Kesultanan Hobyo, meski lebih muda, menunjukkan bagaimana Somalia tetap memiliki tradisi kenegaraan hingga akhir abad ke-19. Hobyo menjalankan diplomasi aktif dengan kekuatan Eropa demi mempertahankan kedaulatan dan kepentingan politiknya.

Jejak kejayaan kesultanan-kesultanan ini menunjukkan bahwa bangsa Somalia memiliki tradisi pemerintahan, hukum, dan perdagangan jauh sebelum konsep negara-bangsa modern diperkenalkan. Somalia bukan sekadar wilayah konflik, melainkan bagian dari sejarah panjang peradaban Samudra Hindia.

Para akademisi menegaskan bahwa kemunduran Somalia pada era modern lebih banyak disebabkan oleh kolonialisme, Perang Dingin, dan intervensi asing, bukan karena ketiadaan identitas bangsa. Mengabaikan faktor sejarah ini dianggap sebagai kesalahan besar dalam membaca situasi Somalia saat ini.

Ucapan Trump, meskipun diarahkan untuk kepentingan politik domestik, dinilai mencederai martabat sebuah bangsa yang memiliki warisan panjang. Banyak pihak menilai retorika tersebut berbahaya karena memperkuat stereotip negatif dan menutup ruang dialog yang lebih konstruktif.

Di sisi lain, pendukung Trump berargumen bahwa pernyataan itu mencerminkan realitas Somalia sebagai negara rapuh dan sarang ekstremisme. Namun kritik muncul karena realitas tersebut tidak bisa dilepaskan dari dinamika global yang juga melibatkan Barat.

Somalia hari ini memang belum sepenuhnya pulih sebagai negara stabil. Namun sejarah menunjukkan bahwa bangsa ini pernah membangun sistem politik dan ekonomi yang maju, sejajar dengan peradaban besar lain di dunia.

Meremehkan Somalia, baik sebagai negara maupun bangsa, berarti menafikan kontribusinya terhadap sejarah Afrika dan dunia Islam. Perspektif seperti itu dinilai tidak hanya keliru, tetapi juga tidak adil.

Bagi banyak orang Somalia di diaspora, pernyataan Trump melukai identitas mereka sebagai bagian dari bangsa dengan sejarah agung. Mereka menegaskan bahwa keterpurukan hari ini bukanlah cermin keseluruhan jati diri Somalia.

Kontroversi ini akhirnya membuka kembali diskusi penting tentang bagaimana sejarah digunakan atau diabaikan dalam politik modern. Somalia mungkin masih berjuang, tetapi sejarahnya membuktikan bahwa ia bukan bangsa tanpa negara, melainkan bangsa dengan warisan yang panjang dan bermartabat.

Di tengah hiruk-pikuk politik global, pengingat akan kejayaan masa lalu Somalia menjadi penting. Bukan untuk bernostalgia semata, tetapi untuk menegaskan bahwa sebuah bangsa tidak bisa dihakimi hanya dari luka-luka zamannya.

COMMENTS

Nama

akademisi,2,arsitektur,12,baru,15,bekasi,1,bisnis,8,bogor,1,bugis,1,cikarang,1,cirebon,2,daerah,1,depok,2,dkijakarta,1,ekonomi,1,english,6,greater jakarta,9,hiburan,12,hukum,3,internasional,72,karawang,1,nasional,15,olahraga,1,pendidikan,14,pengamat,4,politik,25,purwakarta,1,sejarah,5,sosial,1,sukabumi,2,tangerang,1,teknologi,12,tokoh,1,top,11,universitas,1,wisata,7,
ltr
item
Greater Jakarta: Somalia dan Sejarah yang Dilupakan
Somalia dan Sejarah yang Dilupakan
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEi_gqc83LcmfV3mk2qkFZJqQyHAqNF-QX5bsGw8FN_bdiS0ncpjgXKs_nyKdm5a8XWB4Q41lkz9fUR-06yV_q08YbSsI3TUcIfhrtmv-rcSzZBSthnWjtd1q4GPnsLnIIkYcA1AOneshjBqlyobm-WsdnWxHra59ClBfDA6MeL5ILb7uXJM_A9qYit0mA
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEi_gqc83LcmfV3mk2qkFZJqQyHAqNF-QX5bsGw8FN_bdiS0ncpjgXKs_nyKdm5a8XWB4Q41lkz9fUR-06yV_q08YbSsI3TUcIfhrtmv-rcSzZBSthnWjtd1q4GPnsLnIIkYcA1AOneshjBqlyobm-WsdnWxHra59ClBfDA6MeL5ILb7uXJM_A9qYit0mA=s72-c
Greater Jakarta
http://greater-jakarta.blogspot.com/2026/01/somalia-dan-sejarah-yang-dilupakan.html
http://greater-jakarta.blogspot.com/
http://greater-jakarta.blogspot.com/
http://greater-jakarta.blogspot.com/2026/01/somalia-dan-sejarah-yang-dilupakan.html
true
6947194472983378553
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy