Kawasan utara-timur Hasakah kembali menjadi sorotan setelah terjadi insiden penting di desa Krifati, wilayah pedesaan Al-Ya'...
Kawasan utara-timur Hasakah kembali menjadi sorotan setelah terjadi insiden penting di desa Krifati, wilayah pedesaan Al-Ya'rabiya. Laporan lapangan menyebutkan seluruh personel pos “Krifati Sadiq” yang tergabung dalam milisi SDF melakukan desertasi, meninggalkan pos tanpa perlawanan. Peristiwa ini menandai melemahnya struktur keamanan milisi di kawasan tersebut.
Sumber lokal menegaskan, desertasi ini bukan kasus tunggal. Fenomena serupa muncul di beberapa titik lainnya, menunjukkan adanya pola ketidakstabilan internal di barisan SDF. Hal ini memperkuat persepsi bahwa kontrol milisi atas wilayah Hasakah mulai rapuh.
Desertasi pos Krifati terjadi di tengah tekanan militer yang terus meningkat oleh pasukan Arab Suriah. Tentara pemerintah kini bergerak untuk menegakkan keamanan dan menguasai kembali wilayah yang sebelumnya dikuasai SDF. Operasi ini ditargetkan untuk membebaskan penduduk Arab dan Kurdi yang berada di bawah kendali milisi.
Menurut laporan, unit-unit SDF di Ghuwayran juga mengalami situasi serupa. Seluruh personel Asayish al-Najda di wilayah ini dikabarkan meninggalkan pos mereka, menguatkan tren defeksi yang sedang terjadi.
Analis militer menilai, fenomena ini mencerminkan tekanan yang meningkat di dalam milisi. Perpecahan internal, ketidakpuasan personel, dan manajemen yang buruk mempercepat keruntuhan moral kelompok bersenjata tersebut.
Seiring mundurnya pasukan SDF, artileri dan kendaraan tempur pasukan Arab Suriah diarahkan ke wilayah Hasakah. Tujuan utama operasi ini adalah mengamankan wilayah dari pengaruh PKK dan milisi sekutu mereka, serta menegakkan stabilitas bagi warga sipil.
Media regional melaporkan, beberapa konvoi SDF kini bergerak mundur menuju Qamishli. Penarikan ini menandai perubahan signifikan di peta keamanan lokal. Kota yang sebelumnya menjadi titik konsentrasi milisi kini mulai ditinggalkan.
Kehadiran pasukan pemerintah di Hasakah menunjukkan koordinasi strategis yang matang. Skenario ini dibuat untuk menghindari kekosongan keamanan sekaligus memberi waktu bagi penduduk untuk kembali beraktivitas normal.
Di beberapa distrik, warga melaporkan perasaan lega setelah milisi mundur. Mereka mengekspresikan harapan agar stabilitas dapat segera dipulihkan dan kehidupan sipil kembali berjalan normal.
Desertasi di pos Krifati menimbulkan efek psikologis pada unit-unit SDF lain. Banyak personel mulai mempertanyakan kesetiaan mereka, dan beberapa bahkan mempertimbangkan untuk menyerah tanpa pertarungan.
Menurut pengamat, fenomena defeksi ini juga menimbulkan celah logistik. Milisi kehilangan akses ke rute transportasi penting dan pos pengawasan strategis, mempercepat dominasi pasukan pemerintah.
Kehancuran moral ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan politik. Komunitas internasional mengamati pergeseran kekuatan di Hasakah, dengan beberapa pihak mendesak SDF untuk mencari solusi damai atau berintegrasi kembali dengan pemerintah Suriah.
Pasukan pemerintah Arab Suriah menegaskan bahwa tujuan mereka bukan balas dendam, melainkan penegakan hukum dan pemulihan keamanan di wilayah yang terdampak konflik. Pendekatan ini juga untuk memastikan perlindungan bagi seluruh etnis, termasuk Arab, Kurdi, Asyur, dan Turkmen.
Insiden desertasi ini juga menyoroti lemahnya disiplin internal SDF. Banyak komandan tidak mampu menahan tekanan dari tentara pemerintah, dan loyalitas personel menjadi rapuh akibat konflik berkepanjangan.
Skenario keamanan baru ini memunculkan dinamika baru di Hasakah. Pos-pos milisi yang kosong kini bisa dimanfaatkan untuk mengamankan jalur utama, pasar, dan fasilitas vital lainnya.
Warga di distrik-distrik yang sebelumnya terkepung mulai merasa lebih aman. Aktivitas ekonomi perlahan pulih, meski ketegangan masih terasa di beberapa titik.
Beberapa analis memperingatkan, meski desertasi besar-besaran terjadi, proses stabilisasi tetap harus hati-hati. Lingkungan yang rapuh masih rawan ledakan konflik sekunder dari sisa elemen milisi.
Penguatan keamanan oleh pasukan pemerintah Arab Suriah juga disertai upaya diplomasi lokal. Tokoh masyarakat dan pemimpin suku diminta bekerja sama untuk menjaga ketertiban di wilayah Hasakah.
Seiring dengan mundurnya milisi, strategi pemerintah kini difokuskan pada pembentukan administrasi lokal yang inklusif, melibatkan warga Arab dan Kurdi. Pendekatan ini diharapkan mencegah kekosongan kekuasaan dan memulihkan kepercayaan publik.
Akhirnya, peristiwa desertasi di pos Krifati menegaskan bahwa dominasi milisi SDF atas Hasakah mulai runtuh. Pergeseran kekuatan ini membuka peluang bagi pemulihan jangka panjang, sekaligus mengubah peta politik dan militer di timur laut Suriah secara signifikan.

COMMENTS