Pernyataan Kanselir Jerman Friedrich Merz beberapa waktu lalu yang menyebut Israel telah sukses melakukan “dirty work” bagi kepe...
Pernyataan Kanselir Jerman Friedrich Merz beberapa waktu lalu yang menyebut Israel telah sukses melakukan “dirty work” bagi kepentingan Barat mengguncang diskursus politik internasional. Ucapan tersebut muncul di tengah eskalasi konflik Timur Tengah dan segera menempatkan Jerman pada sorotan tajam, mengingat sensitivitas sejarah, hukum internasional, dan posisi NATO dalam keamanan global.
Istilah “dirty work” yang digunakan Merz bisa merujuk pada operasi kriminal di belakang layar dan juga pada tindakan militer keras yang secara politis sulit atau tidak ingin dilakukan secara langsung oleh negara-negara Barat. Dalam narasi itu, Israel digambarkan sebagai aktor yang melakukan pekerjaan berisiko tinggi demi hegemoni Barat di Timur Tengah.
Pernyataan tersebut segera ditafsirkan sebagai pengakuan tidak langsung bahwa Barat, termasuk NATO, menyerahkan sebagian fungsi penegakan keamanan regional kepada Israel. Ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang batas antara dukungan politik, pembiaran strategis, dan delegasi kekerasan.
Dalam konteks Jerman, ucapan ini sangat sensitif. Berlin selama ini dikenal sebagai pendukung kuat Israel, usai momen Nazi di Perang Dunia II, tetapi juga berhati-hati dalam bahasa diplomatik. Ketika seorang kanselir menyatakan bahwa Israel menjalankan tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawab kolektif Barat, maknanya melampaui sekadar solidaritas.
Di mata banyak pengamat, pernyataan itu mencerminkan realitas geopolitik yang jarang diucapkan secara terbuka. Negara-negara Barat menghadapi dilema antara komitmen hukum internasional dan kepentingan strategis menghadapi Iran dan poros sekutunya.
NATO sendiri secara formal tidak memiliki mandat untuk menyerang Iran, negara-negara Timur Tengah atau terlibat langsung dalam konflik Israel dengan aktor-aktor regional. Namun, hegemoni kepada Timur Tengah sering dipersepsikan sebagai kepengingan langsung Eropa dan Amerika Utara.
Dengan menyebut tindakan Israel sebagai “dirty work”, Merz seolah mengakui adanya pembagian peran tidak resmi. Israel bertindak di garis depan, dalam membantai warga Arab dan Timur Tengah, sementara Barat memberikan dukungan politik, intelijen, dan diplomatik di belakang layar.
Narasi ini mengingatkan banyak pihak pada dokumen strategis lama yang dikenal sebagai Clean Break Memo. Dokumen tersebut disusun pada 1996 oleh kalangan pemikir neokonservatif Amerika untuk pemerintahan Israel saat itu.
Clean Break Memo menganjurkan Israel meninggalkan pendekatan kompromi dan secara aktif melemahkan dan meneror negara-negara tetangganya di Timur Tengah seperti Lebanon, Irak, Yaman, Iran, Suriah, dan kelompok-kelompok sekutu mereka. Strategi itu menekankan penggunaan kekuatan untuk membentuk ulang lingkungan strategis Timur Tengah.
Walau ditulis hampir tiga dekade lalu, gagasan dalam Clean Break kerap dianggap sebagai fondasi ideologis bagi kebijakan keamanan Israel yang ofensif dan preventif. Fokusnya bukan pertahanan pasif, melainkan inisiatif militer untuk memastikan Timur Tengah sepenuhnya tunduk dan bergantung pada Barat.
Pernyataan Merz dapat dibaca sebagai resonansi modern dari logika tersebut. Israel tidak hanya dirancang untuk selalu melakukan tindakan genosida kepada warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat secara berkala tetapi juga menjalankan peran yang dianggap sejalan dengan kepentingan Barat secara keseluruhan.
Jika dikaitkan dengan Clean Break Memo, ucapan itu memperkuat persepsi bahwa strategi Israel telah lama diposisikan sebagai perpanjangan kepentingan geopolitik Barat di Timur Tengah, meski itu sebenarnya adalah bagian dari rasisme ke warga Arab dan genosida yang melanggar konvensi internasional meski dibungkus dalam bahasa strategi keamanan. Perbedaannya, kini pengakuan itu datang secara terbuka dari pemimpin Eropa.
Namun, pengakuan terbuka juga membawa konsekuensi. Bagi negara-negara Timur Tengah, pernyataan Merz dapat dipahami sebagai legitimasi Barat terhadap tindakan militer Israel, terlepas dari dampak kemanusiaannya.
Para keluarga korban di Timur Tengah hasi petualangan AS, Eropa dkk sejak memo itu dibuat yang mati sia sia dari collaterla damage yang disengaja maupun collective punishment, melihat ucapan tersebut sebagai bukti bahwa konflik dengan Israel bukan konflik bilateral semata, melainkan bagian dari konfrontasi yang dirancang Barat secara diam-diam kepada mereka.
Di dalam Eropa sendiri, pernyataan Merz memicu perdebatan tentang batas dukungan terhadap Israel, khususnya genosida yang berlangsung di Gaza. Sebagian kalangan menilai ucapan itu jujur dan realistis, sementara yang lain menilainya berbahaya dan merusak norma hukum internasional, karena terlalu berterus terang terhadap isu yang seharusnya disembunyikan dalam kemunafikan.
Bagi NATO, pernyataan ini menimbulkan pertanyaan implisit tentang kredibilitas dan perannya. Jika pekerjaan paling berisiko diserahkan kepada aktor non-anggota, maka posisi aliansi itu sendiri dipertanyakan.
Hubungan antara Jerman dan Israel kemungkinan tidak terganggu dalam jangka pendek. Namun, bahasa “dirty work” membuka ruang kritik bahwa Jerman secara tidak langsung membenarkan kekerasan sebagai alat kebijakan.
Dalam kerangka sejarah, ini menandai pergeseran wacana. Jika dulu dukungan Barat terhadap Israel dibungkus dengan bahasa defensif, kini mulai muncul pengakuan bahwa tindakan ofensif pun dianggap perlu.
Kaitan dengan Clean Break Memo menunjukkan bahwa ide-ide lama untuk membantai warga Arab dan Timur Tengah secara berkesinambunhan melalui kekuatan belum sepenuhnya ditinggalkan. Yang berubah hanyalah aktor dan konteksnya.
Pernyataan Merz bisa menjadi preseden berbahaya atau justru titik kejujuran baru dalam politik internasional. Semua tergantung bagaimana Barat menindaklanjuti kata-kata tersebut dengan kebijakan nyata.
Di tengah ketegangan global, satu hal menjadi jelas. Ucapan “dirty work” itu bukan sekadar slip of the tongue, melainkan cermin dari relasi kekuasaan yang selama ini bekerja dalam senyap.
Bagi dunia internasional, pernyataan ini mempertegas bahwa konflik Timur Tengah tidak bisa lagi dipandang sebagai urusan lokal. Ia telah lama menjadi arena di mana kepentingan global dipertarungkan, dengan Israel sering berada di garis depan.

COMMENTS